Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali melanda pulau Kalimantan dengan dampak ekologis dan sosial yang sangat masif. Kemarau dan kekeringan ekstrem yang meluas menyebabkan dua sungai besar di Kalimantan, yaitu Sungai Barito dan Sungai Mahakam, mengering hingga tak tersisa.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 21 Agustus 2026, tercatat sebanyak 1.487 titik panas (hotspot) tersebar hampir di seluruh wilayah Kalimantan. Kondisi kian meresahkan karena kobaran api dilaporkan telah merambat masuk ke permukiman warga dan memicu kepanikan massal.
Dampak Internasional
Dampak kabut asap pekat akibat karhutla di Kalimantan dan Sumatra kini telah melintasi batas negara:
Malaysia: Sebanyak 591 sekolah di wilayah Sarawak terpaksa ditutup sementara demi keselamatan para siswa akibat tingginya tingkat polusi asap.
Singapura: Rencana gelaran balap internasional F1 Singapore 2026 kini terancam batal akibat buruknya kualitas udara dan jarak pandang.
Temuan Titik Api dan Kondisi Pasar Saham
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengungkapkan bahwa sekitar 74% titik panas berada di dalam area konsesi perusahaan, di mana praktik deforestasi dan kekeringan terus terpantau meluas. Di tengah musibah lingkungan ini, fenomena unik terjadi pada sektor pasar modal. Saham berbagai perusahaan kelapa sawit (seperti JARR, BWPT, ANJT, TAPG, DSNG, SIMP, LSIP, dan AALI) dilaporkan meroket secara serentak, bahkan beberapa di antaranya menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA).
@Clevault